Ali—di kemudian hari dia dijuluki Ali Kimia—tiba di Halabja dengan selembar ”surat perintah” dari saudaranya. Perintah membumihanguskan Halabja. Ali pun beraksi. Tanpa banyak kata, ditembakannya segala senjata kimia ke desa yang terletak di lereng Pegunungan Halgurd itu. Disemprotkannya gas-gas beracun yang ampuh memetik nyawa manusia dalam sekejap. Hasilnya, 5.000 orang, dari bayi hingga kakek-nenek, terkapar.

Dua hari lewat, 12 ribu warga Halabja meninggal. Halabja bukan tragedi terakhir yang menimpa kaum Kurdi. Tapi inilah simbol deraan paling buruk yang pernah diterima bangsa itu di Irak. Bahkan, setelah ditangkap pasukan koalisi, Saddam tetap menganggap tindakan itu sah-sah saja. ”Orang Kurdi kan mencuri tanah kami,” jawab bekas pemimpin Irak itu saat diinterogasi. l l l KINI menjadi diskusi hangat siapa yang bakal membebaskan Raqqa, ibu kota sekaligus jantung kehidupan ISIS, dari kelompok yang dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi itu.

Di kalangan SDF, yang terdiri atas orang-orang Kurdi dan Arab, pertanyaan itu memiliki konsekuensi besar. Pasukan Arab yang belum siap seratus persen untuk menaklukkan Raqqa atau orang-orang Kurdi yang lebih siap menaklukkan lawan, tapi menghadapi penolakan dari penduduk setempat.

Raqqa adalah wilayah Arab dengan mayoritas penduduk orang Arab, sedangkan SDF didominasi pasukan dari suku Kurdi. Memasuki momentum yang menentukan, tatkala kemenangan sudah hampir di tangan, pasukan pemberontak yang kuat ini memang terbelah secara etnis. Tak seperti di negara lain, di Irak pascaSaddam Hussein pada 2014, kaum Kurdi menikmati perlakuan khusus.

Mereka bernaung di bawah KRG atau Pemerintah Regional Kurdi, yang berstatus daerah istimewa atau dengan otonomi khusus. Sama halnya dengan ISIS, Irak yang tak stabil dan centang-perenang membuka kesempatan bagi bangsa Kurdi untuk diakui dunia internasional sekaligus menambah luas wilayahnya. Sesuatu yang mustahil terjadi jika tentara Irak tak selemah sekarang ini.

PENYELENGGARA resepsi akbar peringatan ulang tahun ke85 Mikhail Gorbachev pada Maret lalu mengontak Hotel Ukraine di pusat Kota Kiev untuk mengatur sebuah jamuan makan. Ketika pembicaraan tiba pada urusan biaya, pemilik hotel yang merupakan salah satu ciri khas Ukraina itu menolak dibayar setelah tahu siapa yang dipestakan.

”Mereka bilang, tanpa Gorbachev, mereka mungkin sekali bakal tetap jadi pengusaha kecil, atau penjahat yang berjualan barang-barang terlarang,” ujar Alexei Venediktov, sahabat Gorbachev dan Pemimpin Redaksi Radio Echo of Moscow, media utama bagi kaum liberal di Rusia. ”Mereka bilang, ’Kini kami pemilik semua ini berkat Gorbachev! Tak (usah bayar) sepeser pun!’” Bagi sebagian kalangan di wilayah bekas Uni Soviet, Gorbachev memang dihormati. Dia dianggap penyelamat.

Website : kota-bunga.net

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *