Pada minggu terakhir Maret, Bagdad memang mengumumkan dimulainya operasi untuk merebut kembali Mosul. Tentara pemerintah yang berkekuatan 5.000 orang itu pun mulai menguasai beberapa desa di sekitar Mosul. Namun kemajuan ini berhenti total tatkala 200 anggota ISIS tibatiba melancarkan serangan balik yang banyak makan korban.

Tercatat 20 tentara pemerintah dan seorang marinir Amerika Serikat tewas dalam bentrokan memperebutkan Desa AlNasr itu. Desa itu kembali beralih tangan. Tewasnya sang marinir adalah isyarat pertama keterlibatan pasukan Amerika dalam pertempuran darat. Dua tahun berjaya di medan tempur, menghadapi serangan Peshmerga, ISIS mengalami kemunduran.

Di empat kantong kekuatannya—dua di Suriah, dua lagi di Irak—pasukan ini sibuk menangkis pukulan yang terorganisasi dan terencana. Sejak April lalu, kombinasi gempuran udara Amerika dan pasukan pendobrak Peshmerga mulai membuahkan hasil, baik di medan timur Suriah maupun di barat Irak. Di Falluja, Irak, sudah tiga pekan berlangsung pertempuran memperebutkan kota itu.

Di Suriah sejauh ini belum ada serangan besar yang ditujukan ke ibu kota ISIS, Raqqa. Namun, melihat gelombang pengungsi yang berbondong keluar dari kota itu, tampaklah bahwa kota pusat pemerintahan kekhalifahan tersebut tengah terkepung. Melihat ISIS yang semakin lemah, kini banyak yang justru khawatir. Jika sang musuh bersama itu terkalahkan, apalagi yang akan dilakukan kelompok-kelompok bersenjata kalau bukan memulai pertempuran baru di antara mereka.

Di medan timur laut Suriah, di Manbij, para kepala suku setempat menampik Tentara Demokratik Suriah (SDF) yang hendak membebaskan mereka dari pasukan ISIS lantaran sebagian anggota SDF orangorang Kurdi. Mereka menilai pembebasan dari ISIS urusan orang Arab semata, dan keberadaan orang Kurdi merupakan intervensi yang tidak bisa dibiarkan. l l l SAAT ini diperkirakan tentara Peshmerga berjumlah sekitar 190 ribu orang.

Pasukan ini lahir sebagai tentara penjaga perbatasan pada akhir 1800-an. Peshmerga secara resmi terbentuk sebagai angkatan bersenjata Kurdi setelah runtuhnya Kesultanan Ottoman di Turki pada awal Perang Dunia I. Seiring dengan berkembangnya pergerakan nasionalis Kurdi, Peshmerga berevolusi dari gerilyawan menjadi tentara nasional bagi negara Kurdi merdeka.

Banyak tentara Peshmerga juga merupakan bekas tentara Saddam Hussein yang membelot dan membantu perjuangan kemerdekaan Kurdistan di Irak. Pada 1988, Saddam menghancurkan kekuatan Kurdi. Salah satunya dengan menembakkan senjata kimia di Halabja, yang menewaskan banyak wanita dan anakanak. Hari itu, 16 Maret 1988.

Alkisah, dari Bagdad, ibu kota Irak, datanglah Ali Hassan al-Majid bersama pasukannya. Dia adalah sepupu Saddam, presiden yang ketika itu berkuasa menggenggam setiap jiwa di Irak.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *